Kasihan sekali,
Teofani sedang pucat dan pilu
Di saat yang semu
begitu tertipu dengan mengebu-gebu
Dia sakit,
sekarat, tak jarang berteriak, tanpa ada yang peduli
Penghuni tuli,
buta, dungu, terlupa meski sudah hampir mati
Malangnya dirimu . . .
Letusan bahagia
membanjiri, tanpa bisa berkontemplasi
Kegilaan suci
membasahi, sungguh kepalsuan yang menarik hati
Infantilisme di
otak kuno, menenggelamkan ikan di kala sepi
Bisikan seakan
berdiri, sayangnya ia mengubur yang suci
Malangnya dirimu . . .