Rabu, 13 Juli 2016

Pesta Kepalsuan

Hiruk pikuk ini begitu syahdu.
Jiwa-jiwa hanyutlah dalam tarian semu.
Semua berlalu, tapi kenapa mereka tak tahu.
Aku hantam awan hitam, tapi cacian justru menyerbu.

Padahal apalah arti gelas untuk menampung samudera.
Padahal apalah arti mata untuk melihat alam semesta.
Padahal apalah arti cahaya ketika sumbernya tiada.
Sadarkah hanya kegelapan yang membuka mulutnya di dasar sana.

Anggun sekali kesombongan.
Begitu merdunya cacian.
Indah sekali kekacauan.
Di tengah matinya kemanusiaan.

Sabtu, 09 Juli 2016

Senandung Kelam

Jupiter terlihat benderang.
Di tengah sapaan rembulan.
Seharusnya alam terpejam.
Tapi mataku terbelalak muram.

Berbagai desas desus datang.
Hingga penghancuran menyenangkan.
Kalbuku runtuh, jatuh.
Pengkhianatan tak tahu malu.

Aku mencintai malam kelam.
Yang jujur menampakkan kengerian dan keindahan.
Aku mencintai senja hari.
Saat matahari memberi kecupan perpisahan kepada rembulan.
Tak perlu tersenyum, karena hati membenci.
Tak perlu merayu, karena hati menipu.

Dimana kemanusiaan kalian wahai manusia ?
Dimana kasih kalian wahai jiwa yang merengek pada Tuhan agar dikasihi ?
Jangan menipu Tuhan, karena Dia Maha Pendendam.
Jangan memuja akal, karena ia telah membuat mu binal.

Jumat, 17 Juni 2016

Kemanusiaan Berjubah Kesetanan

Di dunia modern yang serba praktis ini. Banyak manusia yang terlena dan termanjakan oleh segala kemudahan yang didapatkan dari teknologi yang kian canggih. Dunia yang serba sederhana untuk mendapatkan sesuatu. Dunia yang menyajikan pemenuhan kepuasan manusia dengan mudah.

Mirisnya, semua kemajuan itu memang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik dari sisi kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan hidup, tapi di sisi lain justru menggerogoti kemanusiaan manusia, sedikit demi sedikit manusia terlupakan oleh empati, peduli, kejujuran, ketulusan dan lainnya. Manusia hanya tulus jika diberi. Manusia hanya jujur jika di iming-imingi. Manusia hanya peduli jika disertai imbalan.

Dunia bagai sedang terjangkit virus yang berkarat tebal. Kaum proletar tak peduli diinjak, tak peduli anak terlantar, dan tak peduli pendidikan tertinggal asalkan dibayar besar. Kaum cendekia bagai terlepas dari norma nilai, tak peduli penemuannya akan berdampak baik atau menjadi bencana bagi manusia. Kaum politikus terbakar hangus hati nuraninya, tak peduli betapa sengsaranya rakyat yang penting nafsunya dan keluarganya terpenuhi tanpa tahu diri.

Manusia beralih dari jubah kemanusiaan, menuju jubah kesetanan.
Dengannya, mereka melenyapkan ketuhanan dari eksistensi, hanya menjadi kenangan.