Seringkah kita merasa nafas begitu sesak ketika bahagia kita begitu terdesak ?
Atau merasa tak punya arah walau sekedar untuk berharap saja ?
Atau merasa tak punya arah walau sekedar untuk berharap saja ?
Janganlah mencerca kehidupan ini, karena ia hanya menunjukkan apa yang harus ia tunjukkan.
Namun juga berhati-hatilah dengan hati mu ketika kehidupan terasa begitu nyaman. Bisa jadi hal itu hanyalah ujian bahkan jebakan Tuhan.
Namun juga berhati-hatilah dengan hati mu ketika kehidupan terasa begitu nyaman. Bisa jadi hal itu hanyalah ujian bahkan jebakan Tuhan.
Itulah mengapa (bila dalam Islam) Rasulullah saw selalu membiasakan dan melatih para Shahabatnya untuk hidup sederhana dan tidak materialistis. Contohnya adalah apa yang Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak riwayatkan dengan sanadnya dalam Kitab Az-Zuhd :
عن عروة بن الزبير، قال : لقد تصدقت يعني عائشة بسبعين ألفا وإن درعها لمرقع.
Sahabat Nabi saw, Urwah bin Az-Zubair berkata : "Ia -yaitu Aisyah ra- memberi sedekah sebanyak 70.000, padahal kerudungnya sendiri tambalan
'Aisyah ra adalah Ibunda Seluruh Muslim, tapi beliau selalu memberikan sedekah dalam jumlah yang sangat besar padahal baju bahkan kerudungnya pun penuh tambalan karena sudah usang.
Itu semua karena mereka mengetahui nilai dari dunia dan hal-hal keduniawian yang rendah. Tapi banyak manusia yang lupa, mereka membuang sebagian besar waktu hidupnya demi mendapatkan materi (uang, harta), padahal Harta itu Tidak akan pernah tetap dan tak nyata, karena semua ini fana.
Ingatlah nasihat Syaikh Ibnu 'Atha'illah berikut ini :
لا ترحل من كون إلى كون، فتكون كحمار الرحى ويسير، والمكان الذي إرتحل إليه هو الذي إرتحل منه، ولكن إرحل من الأكوان إلى المكون، "وأن إلى ربك المنتهى" (النجم: ٤٢).
Jangan kau pergi dari satu alam ke alam lain sehingga kau menjadi seperti keledai penggilingan yang berputar-putar, tempat yang ia tuju adalah tempat ia beranjak. Namun, pergilah dari alam menuju Pencipta Alam. "Sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan" (QS An-Najm: 42
Rujukan :
Abdullah bin Al-Mubarak, Az-Zuhd, Pustaka Azzam.
Ibnu 'Atha'illah, Al-Hikam, Turos.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar