Oky's notes
Selasa, 21 November 2017
Teofani, Malangnya Dirimu.
Rabu, 13 Juli 2016
Pesta Kepalsuan
Hiruk pikuk ini begitu syahdu.
Jiwa-jiwa hanyutlah dalam tarian semu.
Semua berlalu, tapi kenapa mereka tak tahu.
Aku hantam awan hitam, tapi cacian justru menyerbu.
Padahal apalah arti gelas untuk menampung samudera.
Padahal apalah arti mata untuk melihat alam semesta.
Padahal apalah arti cahaya ketika sumbernya tiada.
Sadarkah hanya kegelapan yang membuka mulutnya di dasar sana.
Anggun sekali kesombongan.
Begitu merdunya cacian.
Indah sekali kekacauan.
Di tengah matinya kemanusiaan.
Sabtu, 09 Juli 2016
Senandung Kelam
Jupiter terlihat benderang.
Di tengah sapaan rembulan.
Seharusnya alam terpejam.
Tapi mataku terbelalak muram.
Berbagai desas desus datang.
Hingga penghancuran menyenangkan.
Kalbuku runtuh, jatuh.
Pengkhianatan tak tahu malu.
Aku mencintai malam kelam.
Yang jujur menampakkan kengerian dan keindahan.
Aku mencintai senja hari.
Saat matahari memberi kecupan perpisahan kepada rembulan.
Tak perlu tersenyum, karena hati membenci.
Tak perlu merayu, karena hati menipu.
Dimana kemanusiaan kalian wahai manusia ?
Dimana kasih kalian wahai jiwa yang merengek pada Tuhan agar dikasihi ?
Jangan menipu Tuhan, karena Dia Maha Pendendam.
Jangan memuja akal, karena ia telah membuat mu binal.
Jumat, 17 Juni 2016
Kemanusiaan Berjubah Kesetanan
Mirisnya, semua kemajuan itu memang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik dari sisi kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan hidup, tapi di sisi lain justru menggerogoti kemanusiaan manusia, sedikit demi sedikit manusia terlupakan oleh empati, peduli, kejujuran, ketulusan dan lainnya. Manusia hanya tulus jika diberi. Manusia hanya jujur jika di iming-imingi. Manusia hanya peduli jika disertai imbalan.
Dunia bagai sedang terjangkit virus yang berkarat tebal. Kaum proletar tak peduli diinjak, tak peduli anak terlantar, dan tak peduli pendidikan tertinggal asalkan dibayar besar. Kaum cendekia bagai terlepas dari norma nilai, tak peduli penemuannya akan berdampak baik atau menjadi bencana bagi manusia. Kaum politikus terbakar hangus hati nuraninya, tak peduli betapa sengsaranya rakyat yang penting nafsunya dan keluarganya terpenuhi tanpa tahu diri.
Manusia beralih dari jubah kemanusiaan, menuju jubah kesetanan.
Dengannya, mereka melenyapkan ketuhanan dari eksistensi, hanya menjadi kenangan.
Rabu, 22 April 2015
Penjelasan Kitab Az-Zuhud - Anugerah yang menjebak
Semoga Shalawat dan Salam kekal untuk Utusan-Nya.
A. Perihal Pengarang dan Kitab Az-Zuhud.
Saya akan memulai membahas kitab Az-Zuhud yang dikarang oleh seorang ulama yang sangat 'alim, kaya namun sangat dermawan, terhormat namun selalu ikut perang jihad, beliau adalah Abdullah bin Al-Mubarak (Lahir 118 H-Wafat 181 H). Dalam kitab Az-Zuhud, Imam Ibnul Mubarak meriwayatkan hadits hingga atsar tentang sifat Zuhud sesuai judul kitabnya. Namun sebenarnya tidak hanya tentang sifat zuhud, namun melingkupi semua sifat mulia.
B. Pengertian Zuhud.
Tapi apakah pengertian zuhud itu ?
Secara bahasa, الزهد (zuhud) adalah antonim dari kata الرغبة (keinginan), berarti sifat tidak ingin, tidak rakus.
Sedangkan secata istilah, ringkasnya, diriwayatkan Al-Fudhail pernah berkata : "Asal (pangkal) zuhud adalah ridha terhadap ketentuan Allah".
Dan salah satu Imam Tasawuf, Junaid Al-Baghdadi menjelaskan : "Zuhud adalah sebagaimana yang difirmankan Allah SWT ; "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS Al-Hadid: 23), (Jadi) orang yang zuhud tidak berbahagia dengan sesuatu yang ada dari dunia dan tidak menyesali sesuatu yang hilang darinya. Zuhud adalah tidak adanya keinginan hati terhadap sesuatu yang dilepaskan oleh tangannya."
Hadits No. 1 dan Penjelasannya.
Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak berkata :
Saat kita sehat kita lebih sering menghabiskan waktu untuk berkumpul dengan teman sebaya untuk bermain. Padahal kita dapat gunakan waktu tersebut untuk memperbanyak ibadah sunnah dan mendatangi ulama untuk belajar.
Jangan sampai kita menyesali kehidupan kita karena kita salah dalam menentukan prioritas hidup. Ingat penyesalan selalu di akhir, di saat semua hancur dan sudah terlanjur.
Selasa, 21 April 2015
Jangan tertipu hidup !
Atau merasa tak punya arah walau sekedar untuk berharap saja ?
Namun juga berhati-hatilah dengan hati mu ketika kehidupan terasa begitu nyaman. Bisa jadi hal itu hanyalah ujian bahkan jebakan Tuhan.
Relativitas Kebenaran
Jadi my first note akan membahas tentang Kebenaran dan kerelativitasannya.
Di dunia ini, dimana pun itu, yang baik hanya yang benar. Yang menjadi nilai norma baku masyarakat hanya kebenaran.
Tapi cobalah sejenak perhatikan sekeliling kita dan pikirkan, "mereka melakukan suatu hal yang kita juga lakukan tapi dengan cara beda, bagi kita cara kita yang benar, namun bagi mereka, cara merekalah yang benar."
Apakah mungkin kebenaran itu ada banyak ?
tidak. Yang benar adalah Kebenaran itu hanya satu, tapi mempunyai banyak bentuk. Namanya saja 'kebenaran', jadi tidak 'salah'.
Seperti sebuah lilin yang memancarkan cahaya ke berbagai arah.
Sumber cahayanya hanya satu, tapi bentuk cahayanya berbeda sesuai ruang tempat cahaya tertahan.
Seperti sebuah etika. Orang yang berasal dari dunia barat akan berbeda aturan etikanya dengan orang yang berasal dari dunia timur. Berbeda karena apa ? Karena kebudayaan, lingkungan, dan pemikiran mereka berbeda.
Bahkan di dalam lingkup dunia barat atau timur sendiri mempunyai banyak aliran filsafat etika, contohnya adalah utilitarianism dan materialism. Masing-masing aliran menganggap cara merekalah yang benar.
Jadi kebenaran itu relatif dalam kehidupan ini. Hal inilah yang banyak orang lupakan atau mungkin memang tidak mereka pahami, yang sangat rentan memicu ketidakharmonisan di kehidupan sosial.